
Minggu lalu, sebuah perdebatan kecil terjadi di meja makan saya. Hanya karena masalah sepele, apakah lebih baik mencuci piring langsung setelah makan atau menumpuknya dulu lalu dicuci besok pagi, dua orang dewasa bisa berargumen dengan sengitnya.
Masing-masing merasa punya alasan paling logis. Dari kejadian itu, saya jadi merenungkan bagaimana bisa dua orang melihat hal yang sama, tetapi menarik kesimpulan yang bertolak belakang.
Fenomena ini sebenarnya terjadi setiap hari di sekitar kita. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Yang terjadi sebenarnya adalah kita sering kali terjebak dalam sudut pandang sendiri dan menganggapnya sebagai satu-satunya kebenaran mutlak.
Situasi ini paling sering muncul saat ada masalah, diskusi serius, atau ketika kita dihadapkan pada hal yang tidak sejalan dengan keinginan.
Tempat kejadiannya pun bisa di mana saja, mulai dari ruang keluarga, meja kantor, hingga perdebatan panjang di kolom komentar media sosial.
Alasan kita sering merasa paling benar terletak pada latar belakang hidup masing-masing. Cara seseorang memandang dunia sangat dipengaruhi oleh tempat ia tumbuh, pengalaman masa lalu, pendidikan, hingga lingkungan sosialnya.
Kacamata yang kita pakai hari ini adalah hasil rajutan dari seluruh pengalaman tersebut. Wajar jika apa yang terlihat benar bagi kita, tampak keliru di mata orang lain.
Objek atau kejadian di luar diri kita hanyalah sebuah fakta netral, tetapi kepala manusia bertindak sebagai penafsir yang memberikan makna berbeda pada fakta tersebut.
Ada beberapa makna di balik fenomena ini. Pertama, kacamata pengalaman menentukan makna, di mana fakta yang sama disaring oleh latar belakang yang tidak pernah sama sehingga apa yang dianggap sebagai ancaman oleh seseorang bisa jadi dianggap sebagai peluang oleh orang lain murni karena riwayat hidup, pendidikan, dan luka yang pernah kita lewati berbeda.
Kedua, kebenaran bersifat relatif dan subjektif, mengajarkan kita bahwa apa yang kita yakini sebagai kebenaran mutlak sebenarnya hanyalah kebenaran versi diri sendiri sementara orang lain pun memiliki kebenaran versinya yang sama-sama dibangun atas dasar logika mereka.
Ketiga, ada batas kemampuan manusia karena kita tidak pernah benar-benar melihat dunia secara utuh melainkan hanya melalui potongan-potongan kecil yang sanggup ditangkap oleh nalar dan pengalaman kita.
Kesimpulannya, perbedaan kesimpulan adalah bukti bahwa manusia adalah makhluk yang unik, di mana cara pandang seseorang adalah cerminan dari seluruh isi kepalanya, bukan cerminan mutlak dari kenyataan itu sendiri. (*)



Komentar