
Pernah nggak sih, kamu tiba-tiba merasa sebal dengan seseorang yang bahkan belum pernah kamu ajak ngobrol? Atau, tanpa sadar kamu ikut-ikutan menjaga jarak dari seorang teman hanya karena mendengar desas-desus yang beredar di tongkrongan?
Kalau jujur-jujuran, kita semua mungkin pernah ada di fase itu. Fase di mana kita merasa sudah paling tahu cerita utuhnya, padahal sumber informasi kita cuma obrolan dari mulut ke mulut.
Beberapa waktu lalu, di tengah ramainya media sosial dan gampangnya orang saling lempar asumsi, aku sempat menulis sebuah catatan kecil di Threads: “Terlalu banyak orang yang melihat pakai telinga: membenci dari kabar burung, menghakimi dari katanya.”
Lucu, ya, kalau dipikir-pikir. Tuhan kasih kita dua mata di depan supaya kita bisa melihat realitas secara langsung dan jernih. Tapi entah kenapa, di zaman sekarang kita lebih suka melihat menggunakan telinga. Kita membangun persepsi, menebak karakter, bahkan memvonis jalan hidup seseorang hanya berbekal kata katanya.
“Eh, katanya dia tuh aslinya sombong banget lho.” Denger-denger sih, dia dapet posisi itu karena ada main belakang.”
Kalimat-kalimat yang diawali dengan “katanya” atau “dengar-dengar” ini sering kali lebih cepat kita serap daripada fakta yang sebenarnya. Kenapa? Ya, karena mendengarkan gosip itu gampang dan menghibur. Tinggal duduk manis, pasang kuping, dan biarkan cerita yang sudah dibumbui sana-sini mengalir. Beda banget dengan mencari tahu kebenaran; itu butuh tenaga, waktu, dan kadang keberanian untuk bertanya langsung pada orang yang bersangkutan.
Tapi sadar nggak sih, kebiasaan melihat pakai telinga ini bahaya banget? Reputasi orang bisa hancur cuma karena narasi sepihak. Hubungan pertemanan yang sudah bertahun-tahun bisa runtuh hanya karena bisik-bisik yang belum tentu benar. Kita jadi manusia yang miskin objektivitas karena terlalu gampang disetir oleh omongan orang lain.
Tulisan di blog ini, pada akhirnya, adalah sebuah pengingat buat kita semua. Mari sama-sama belajar untuk tidak gampang terpancing. Tiap kali ada cerita miring yang mampir ke telinga, coba biasakan untuk diam sebentar, tarik napas, lalu bertanya pada diri sendiri: “Kita sudah lihat sendiri belum, ya? Atau kita cuma lagi menelan mentah-mentah asumsi orang lain?“
Mari kembalikan fungsi indra kita sebagaimana mestinya. Biarkan telinga mendengar dengan bijak dan penuh empati, tapi biarkan mata dan pikiran sehat kita yang menilai faktanya. Berhenti membenci hanya karena kabar burung, dan berhentilah menghakimi hanya bermodalkan kata katanya.



Komentar