
Sebermula, tersebutlah perkataan sebuah negeri yang besar lagi masyhur, yang padanya terdapat suatu gelanggang tempat segala ksatria menguji gagah dan tangkasnya. Adapun akan memeliharakan tertib dan keadilan di dalam gelanggang itu, maka diangkatlah seorang wasit, diserahi amanat supaya ia berlaku adil serta memutuskan segala perkara menurut aturan yang telah ditetapkan.
Hatta, tiadalah berapa lama, maka lalailah wasit itu daripada amanat yang diserahkan kepadanya. Tiada ia berkenan berdiri hampir pada gelanggang, melainkan duduklah ia jauh di suatu tempat, tiada sungguh-sungguh memerhatikan segala yang berlaku. Adapun tatkala segala ksatria beradu tangkas dan mengerahkan segenap tenaga di tengah gelanggang, maka wasit itu terlebih suka mendengar bisik dan desas-desus orang yang duduk di luar gelanggang daripada menyaksikan sendiri jalannya pertandingan.
Syahdan, pada suatu hari, masuklah seorang ksatria ke gelanggang, lalu bertanding dengan penuh berani. Belum lagi nyata segala perkara yang berlaku, maka sampailah kepada wasit itu beberapa tuduhan daripada orang di luar gelanggang. Tiada diselidikinya akan benar atau salah perkataan itu, tiada pula ditanyainya saksi atau diperiksanya segala kejadian. Dengan segeranya dijatuhkan hukuman atas ksatria itu, seraya dituduhnya ia berlaku curang, seolah-olah wasit itu sendiri telah menyaksikan segala perbuatannya dengan mata kepalanya.
Maka gemparlah seisi negeri mendengar keputusan yang demikian itu. Heranlah segala orang, kerana seorang yang diamanatkan memeliharakan keadilan telah menjatuhkan hukuman atas perkara yang tiada sungguh-sungguh disaksikannya. Maka nyata benarlah bahwa bukanlah kurangnya aturan yang membawa celaka, melainkan lalainya orang yang diserahi amanat daripada menjalankan kewajibannya.
Arakian, berkatalah segala orang tua-tua yang bijaksana di negeri itu, “Adapun seorang wasit yang elok budi lagi sempurna amanatnya, hendaklah ia memeriksa segala perkara dengan saksama, mendengar keterangan daripada segala pihak, serta membedakan yang benar daripada yang dusta. Janganlah ia menjadikan bisik orang sebagai bukti, atau menjatuhkan hukuman menurut benci dan prasangka. Karena apabila desas-desus dijadikan hakim, niscaya keadilan pun tersisih, dan orang yang tiada bersalah menanggung hukuman, sedang yang benar tiada mendapat pembelaan.”
Demikianlah hikayat ini menjadi ibarat bagi segala orang yang memegang kuasa dan amanat, supaya janganlah mereka terpedaya oleh perkataan orang sebelum nyata kebenarannya.



Komentar