
Setiap kali kemarau mengeringkan Sungai Mahakam atau banjir melumpuhkan perekonomian, narasi yang dibangun selalu sama: musibah alam musiman.
Pemerintah pun bergegas menyalurkan bantuan bahan pokok, BBM, tabung gas, dan bantuan lainnya.
Langkah tanggap darurat ini memang krusial untuk menyelamatkan warga dalam jangka pendek.
Namun, membingkai krisis ini sebagai sekadar bencana alam adalah kekeliruan fatal. Mahakam Ulu bukan korban fenomena alam, melainkan korban ketimpangan pembangunan.
Memperlakukan distribusi logistik darurat sebagai solusi tuntas adalah bentuk pembiaran masalah yang dipelihara bertahun-tahun.
Mengandalkan Sungai Mahakam sebagai urat nadi tunggal membuat daerah ini memiliki kerentanan logistik yang ekstrem. Ketika debit air sungai drop, harga bahan pokok melambung tinggi dan warga terisolasi secara ekonomi.
Mengirim bantuan setiap kali krisis terjadi hanyalah kebijakan reaktif, seperti menempelkan plester pada luka yang membutuhkan intervensi bedah.
Akar masalahnya bertumpu pada pengabaian konektivitas darat. Tanpa jaringan jalan darat yang andal dan dapat dilalui dalam segala cuaca, wilayah terdepan Kalimantan Timur ini akan terus-menerus tersandera.
Keterisolasian di sini bukan takdir geografi, tetapi cerminan dari prioritas pembangunan yang tebang pilih.
Anggaran jumbo yang terus disedot untuk biaya logistik darurat yang mahal seharusnya dialokasikan secara konsisten untuk percepatan pembangunan koridor darat menuju pusat ekonomi utama.
Selain percepatan jalan darat, Mahakam Ulu juga membutuhkan penguatan kapasitas penyimpanan strategis di tingkat lokal.
Pembangunan depot BBM dan gudang cadangan pangan berkapasitas besar di wilayah kabupaten akan memberikan bantalan ketahanan saat jalur distribusi utama terganggu.
Masyarakat Mahakam Ulu tidak butuh kompromi musiman atas nama musibah alam. Bantuan logistik darurat adalah kewajiban kemanusiaan jangka pendek, tetapi keadilan sosial yang hakiki baru tercipta ketika pemerintah berhenti menyalahkan alam dan memutus keterisolasian itu secara permanen melalui akses darat.



Komentar