Beranda / Sudut Pandang / Jerat Ekonomi dan Alibi Rusaknya Alam di Mahakam Ulu
Sudut Pandang

Jerat Ekonomi dan Alibi Rusaknya Alam di Mahakam Ulu

Mahalnya harga kebutuhan pokok di pedalaman Mahakam Ulu tidak menyisakan banyak pilihan bagi warga.

Himpitan ekonomi yang mencekik memaksa sebagian masyarakat terjun langsung ke dalam penambangan emas ilegal demi menyambung hidup.

Mereka sadar mesin-mesin yang dioperasikan merusak lingkungan, namun desakan perut mengalahkan segalanya.

Di tengah keterpaksaan itu, muncul alibi baru yang kerap dilontarkan: “toh selama ini hutan juga sudah digunduli negara lewat berbagai izin konsesi.”

Anggapan ini menjadi senjata pembenaran yang ampuh untuk merasionalisasi tindakan mereka. Muncul perasaan sinis bahwa kerusakan lingkungan bukanlah dosa eksklusif warga kecil.

Ketika negara sendiri dianggap terbiasa merusak hutan demi kepentingan korporasi, mengapa mereka harus disalahkan saat ikut mengambil sisa hasilnya demi bertahan hidup?

Namun, logika ini justru menjebak. Kerusakan yang dilegalkan lewat izin konsesi korporasi tidak otomatis membuat tambang ilegal tanpa aturan menjadi benar.

Apa yang terjadi di Mahakam Ulu kini adalah akumulasi bencana, hutan di hulu sungai sudah habis ditebang, ditambah tambang-tambang ilegal yang memperparah kerusakan alam.

Memakai kesalahan pihak lain sebagai alibi hanya menjadi jalan pintas menuju kehancuran total.

Menghadapi situasi ini, pemerintah daerah tidak boleh hanya duduk diam atau sekadar melontarkan imbauan kosong.

Pemerintah wajib menertibkan penegakan hukum secara konsisten dengan menindak tegas para pemodal besar di balik layar yang selama ini memanfaatkan kesulitan ekonomi warga untuk mengeruk keuntungan pribadi, bukan sekadar menindak penambang kecil di lapangan.

Selain itu, pemerintah daerah harus serius mengintervensi harga kebutuhan pokok di pedalaman serta membuka sektor alternatif yang produktif, seperti pertanian modern atau pengembangan komoditas lokal, agar warga tidak lagi bergantung pada tambang ilegal.

Emas mungkin menjanjikan uang tunai instan bagi mereka yang terhimpit, tetapi pada akhirnya, anak cuculah yang harus menanggung derita warisan bencana ekologis tersebut setiap hari.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *