Di hulu Mahakam,
batu-batu purba kini berbogel
di bawah terik
yang tak kenal ampun,
seperti musim-musim lalu
yang tak pernah benar-benar
berlalu.
Sementara longboat dan speedboat
terkapar
di punggung karangan.
Di dermaga,
bahan bakar minyak
menjelma dongeng
yang sulit dipercaya.
Karung-karung beras
terus mendaki harga,
sementara tangan-tangan
yang mencarinya
kian jauh dari jangkauan.
Kabar tentang jalan,
janji, dan perhatian,
masih tersangkut di hilir
dan belum juga tiba.
Sungai Mahakam
kian surut,
sedang di bilik-bilik rumah panjang,
lapar mengunyah
sisa-sisa sabar.
Ujoh Bilang, 10 Agustus 2026



Komentar